Kenapa harus tanda silang? Kenapa tidak bulatan hitam saja? Dikhawatirkan murid-murid di SD kurang rapi dalam membulatkan dan menghitamkan jawaban, sehingga LJK tidak dapat terbaca oleh komputer. Jika hal ini terjadi maka murid-murid SD tersebut akan dirugikan, sebab nilai ujiannya tidak akan sesuai dengan apa yang mereka kerjakan. Untuk menghindari hal-hal seperti itu maka dibutuhkan suatu program yang benar-benar dapat digunakan untuk mengatasi persoalan seperti itu. Yang menjadi pertanyaan kita, adakah sistem pemeriksa ujian yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut ?
Digital Mark Reader (DMR) adalah jawabannya. Untuk kegiatan dengan skala nasional seperti UASBN SD, DMR UASBN adalah yang paling tepat. Selain dapat membaca LJK dengan tanda silang, kotor, bahkan sobek, DMR UASBN sangat mudah sekali digunakan, tidak perlu tenaga ahli komputer untuk mengoperasikan program DMR UASBN, karena program ini sangat user friendly. Setelah melalui beberapa tahap pengujian, akhirnya DMR ditunjuk sebagai sistem pemeriksa ujian resmi untuk UASBN SD 2008 oleh pemerintah melalui lembaga / institusi terkait yang berwenang dalam hal ini.
Hal ini tentunya menjadi suatu kebangaan tersendiri bagi para pengguna DMR, karena sistem pemeriksa ujian yang mereka miliki sekarang, telah digunakan dalam kegiatan berskala nasional. Bukan tidak mungkin ujian nasional untuk SMP dan SMA pun nantinya akan ikut menggunakan DMR, maka dari itu tetap setia menggunakan software karya anak bangsa yang orisinalitasnya dapat dipertanggungjawabkan dan menjadi pelopor software mark reader di Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar